Jakarta - Sivitas akademika Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta diajak untuk merancang masa depan dengan tidak menjadi pengguna pasif maupun korban dari arus transformasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Penegasan tersebut disampaikan oleh Analis Kebijakan Utama Bidang Jianbang Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Dr. H. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si., saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda Universitas UIC Jakarta angkatan 2022 pada Selasa, 06 Oktober 2026, di gedung Puri Ardhya Garini, Jakarta Timur.
Dalam orasi ilmiah bertajuk “Membangun Generasi Unggul, Berintegritas, Prediktif, dan Berkarakter: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Tangguh di Era Transformasi Global”, jenderal Polisi bintang dua tersebut mengingatkan bahwa tantangan masa depan tidak lagi sekadar menguji seberapa tinggi nilai akademik atau seberapa cepat seseorang menguasai teknologi.
Menurutnya, dunia saat ini tengah menghadapi disrupsi multidimensi, mulai dari ledakan data, ancaman siber, maraknya hoaks, hingga penurunan kepedulian sosial yang membutuhkan respons manusia secara utuh.
"Pintar saja tidak lagi cukup; kita butuh generasi yang utuh. Kemampuan teknologi harus berjalan bersama tanggung jawab manusia. AI dapat membantu manusia, tetapi manusia tetap harus menentukan tujuan, nilai, batas, dan pertanggungjawaban penggunaannya," ujar Irjen Pol. Andry Wibowo di hadapan pimpinan universitas, guru besar, dosen, serta ratusan Wisudawan Universitas Ibnu Chaldun.
Guna mencetak pemimpin masa depan yang tangguh di era digital, Irjen Pol. Andry Wibowo menggarisbawahi empat fondasi utama yang saling berkaitan:
• Unggul: Memiliki kompetensi tinggi, daya saing global, serta perluasan literasi di bidang sains, teknologi, finansial, dan data dengan mentalitas pembelajar sepanjang hayat.
• Integritas: Menjadikan kejujuran sebagai kompas moral yang tidak bisa dinegosiasikan, baik dalam wujud kejujuran akademik di kampus maupun integritas profesional di dunia kerja.
• Berpikir Prediktif: Memiliki kemampuan membaca tren, menganalisis risiko berbasis fakta empiris dan data, serta bergerak proaktif dari pola lama yang cenderung reaktif.
• Berkarakter: Menjaga kualitas moral internal melalui nilai religiusitas, nasionalisme, resiliensi, dan empati agar kemajuan zaman tetap humanis.
Lanjutnya, Perwira tinggi Polri lulusan Akpol 1993 itu juga memaparkan bahwa teknologi AI seperti machine learning, deep learning, hingga generative AI telah mendisrupsi dunia kerja melalui tiga pola, yakni otomatisasi tugas repetitif, peningkatan kapasitas kerja (augmentation), dan penciptaan peran-peran baru yang spesifik. Oleh karena itu, ia berharap besar kepada mahasiswa untuk menjadikan kampus sebagai laboratorium kehidupan untuk mengasah kepemimpinan secara mandiri dan disiplin sebelum terjun langsung ke masyarakat.
Di akhir pemaparannya, Irjen Pol. Andry Wibowo menekankan pentingnya kolaborasi tiga ekosistem pembentuk generasi emas, yaitu lingkungan keluarga sebagai penanam moral awal, lembaga pendidikan sebagai pusat transfer ilmu, serta masyarakat dan ruang digital sebagai tempat aktualisasi yang sehat.
"Masa depan tidak untuk ditunggu, melainkan dirancang dari sekarang oleh tangan-tangan yang unggul dan berkarakter," pungkasnya memotivasi seluruh peserta kuliah umum.
Penulis : Ryana Sabrina