Luka Abadi di Balik Toga yang Hilang

07 May 2026

Desi. Bagi mahasiswa baru, ia mungkin tampak seperti senior yang telat lulus. Namun bagi mereka yang telah bertahun-tahun di sana, Desi adalah narasi pilu yang berjalan di selasar kampus. Ia adalah "mahasiswi abadi" bukan karena malas, melainkan karena jiwanya enggan beranjak dari sebuah pengkhianatan besar yang menghancurkan dunianya.

Dahulu, Desi dikabarkan sebagai mahasiswi yang penuh harapan. Ia adalah sosok cerdas yang hampir menyentuh garis finis pendidikannya. Namun, sebuah tragedi itelektual terjadi: buah pikirannya, skripsi yang disusun dengan tetesan keringat dan air mata, diakui oleh orang yang ia percaya sebagai teman.

Bagi seorang akademisi, ide adalah harta paling berharga. Ketika ide itu dirampas, bukan hanya gelar yang hilang, tetapi juga harga diri dan kepercayaan pada dunia. Sejak saat itu, mental Desi runtuh. Memorinya seolah terkunci dalam sebuah loop atau lingkaran waktu. Baginya, masa kini adalah masa lalu. Ia merasa masih harus datang ke kampus, membawa tas, dan bersiap untuk bimbingan yang tak akan pernah terjadi.

Jauh sebelum tatapannya menjadi kosong seperti sekarang, Desi adalah mahasiswi dengan binar mata yang penuh ambisi. Di perpustakaan yang pengap, ia dikenal sebagai sosok yang paling terakhir pulang. Jemarinya lincah menari di atas tuts mesin ketik atau komputer, menyusun argumen demi argumen dalam draf skripsinya. Baginya, setiap lembar kertas itu adalah tiket untuk membahagiakan orang tua dan mengubah nasib di tanah kelahirannya, Bireuen.

Namun, dunia akademis yang ia cintai ternyata menyimpan sisi gelap yang tak pernah ia duga. Kabar burung yang berhembus di antara para alumni menceritakan sebuah pengkhianatan yang dingin: penelitian yang ia garap siang dan malam, data yang ia kumpulkan dengan susah payah, diduga berpindah tangan. Sosok yang ia anggap kawan, seseorang yang sering berbagi kopi dan keluh kesah dengannya, disebut-sebut telah mencuri inti dari pemikirannya dan mengklaimnya sebagai milik sendiri.

Hari itu, ketika ia menyadari bahwa "anak rohani"-nya telah dirampas, sesuatu di dalam diri Desi ikut patah. Bukan sekadar nilai yang hilang, tapi kepercayaan dasarnya terhadap kebenaran telah hancur. Bayangkan rasa sesak saat kau melihat hasil kerja kerasmu dipuji di bawah nama orang lain, sementara kau dibiarkan berdiri di luar pintu tanpa daya.

Guncangan hebat itu membuat sistem pertahanan jiwanya melakukan shutdown. Sejak detik itu, otak Desi seolah menolak untuk memproses masa depan. Ia menolak untuk percaya bahwa ia gagal lulus. Ia menciptakan dunianya sendiri, sebuah dunia di mana skripsinya masih ada, bimbingannya masih berjalan, dan teman-temannya masih setia. Baginya, pengkhianatan itu tidak pernah terjadi karena ia memilih untuk terus hidup di hari-hari sebelum semuanya hancur.

 

Setiap hari, Desi menyusuri koridor-koridor panjang universitas. Ia kadang duduk terdiam di kursi taman, menatap gedung rektorat, atau berdiri di depan pintu ruang dosen. Tidak ada amarah yang ia tunjukkan. Hanya ada kesunyian yang dalam. Pihak Universitas Almuslim sendiri mengambil langkah yang luar biasa humanis. Alih-alih menganggapnya sebagai gangguan, kampus justru menjadi tempat perlindungan baginya. Para dosen dan staf keamanan memberikan ruang. Mereka membiarkan Desi "berkuliah" dengan caranya sendiri. Di sini, kampus bukan lagi sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah rumah singgah yang menjaga martabat seorang manusia yang terluka.

 

Kisah Desi yang belakangan viral di media sosial memicu gelombang simpati yang luar biasa. Netizen tidak hanya bersedih atas kondisinya, tetapi juga mengecam praktik plagiarisme dan pengkhianatan di dunia pendidikan. Sosok Desi menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa satu tindakan curang bisa menghancurkan hidup seseorang selamanya.

Hingga hari ini, Desi tetap ada di sana. Menunggu di ambang pintu yang tak pernah terbuka, mencari bab skripsi yang telah lama hilang. Ia mungkin tidak akan pernah berdiri di atas panggung wisuda dengan toga yang megah. Namun, di hati mereka yang mengenalnya, Desi telah lulus dalam ujian kehidupan yang paling berat: bertahan hidup di tengah sisa-sisa mimpinya yang hancur. Langkah kakinya di lorong kampus akan terus bergema, menjadi pengingat bagi setiap mahasiswa yang lewat bahwa di tempat ini pernah ada seorang gadis yang cintanya pada ilmu pengetahuan berakhir menjadi luka abadi.

 

Penulis: Dahlia Eka Umayah

 


Whatsapp