Bangkitkan Kembali Kesadaran Nasional ( Pendidikan, Agama dan kebudayaan)

15 August 2020

Memasuki dekade abad ke 19 ulama Indonesia diperhadapkan dengan suatu perubahan besar, yaitu perubahan dari imperialisme menjadi imperialisme moderen.  Hadirnya Imperialisme moderen ditandai dengan kemenangan negara kesatuan Italia atas Vatikan, sehingga 3 negara mendeklarasikan diri sebagai kekuatan awal imperialisme moderen seperti Belanda, Amerika, dan Inggris. Perubahan itu berdampak sampai ke Indonesia dengan diberlakukannya UU Bumi tahun 1870 yang dirancang oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk memperkuat mode imperialisme mereka seperti diberlakukannya kerja paksa selama 93 tahun.

 

Ulama Nusantara dalam melihat maraknya gerakan imperialisme dari negara-negara barat, ulama nusantara memulai perlawanan melalui pendekatan Tarbiyah yang dikenal dengan gerakan membangun kesadaran nasional. Yang berlangsung sejak tahun 1900-1943 M. Jika kita kilas balik ke belakang, sejak abad ke-14 hingga abad ke-19, Indonesia selalu menjadi sasaran perebutan pengaruh berbagi negara adikuasa disebabkan kandungan sumberdaya alamnya yang begitu melimpah ( secara Geo-Ekonomi) maupun letak strategisnya yang unik di kawasan Asia tenggara (secara Geo-Strategi).

 

Ditinjau dari sudut pandang kepentingan negara-negara adikuasa Eropa kala itu seperti Inggris dan sekutunya hingga akhir abad ke-19, dimaksudkan untuk membangun industrialisasi serta memperoleh pasar di negerinya masing-masing. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menyatakan kemerdekaan nasionalnya sebagai negara bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945 menyusul pernyataan Proklamasi  yang dikumandangkan oleh Dwitunggal Proklamator kita Bung Karno dan Bung Hatta.

 

Momentum kemerdekaan Indonesia menjadi ancaman baru bagi negara adikuasa Eropa dan Amerika sehingga kegarangan adikuasa tersebut melakukan rancangan strategi baru untuk menghegemoni Indonesia yang sampai saat ini Cengkraman hegemoninya masih kuat dengan sekema penjajahan gaya barus ( Perang Arsimetris). Model peperangan yang tidak melibatkan banyak pasukan tapi memiliki daya menghancurkan yang sangat kuat dengan menyerang langsung ke jantung pertahanan negara.

 

Kesadaran akan potensi Indonesia hanya bisa direalisasikan oleh pemuda yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni (SDM ). Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah menyediakan layanan publik yang baik dari segala sekto, terutama sektor yang bertugas menciptakan SDM unggu seperti sekolah, Perguruan Tinggi dan Universitas. Capaian Indonesia merdeka akan segera menuju titik terangnya jika daya saing masyarakatnya mendunia, yang tentunya melalui jalur pendidikan yang layak.
 

Universitas Ibnu Chaldun sebagai lembaga yang mengemban amanah mendidik generasi Indonesia, kini berusaha dengan tenaga dan pikiran yang terfokus pada pembangunan manusianya artinya mewujudkan makna hakekat kita bernegara yankni “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa”. sebab melihat alur sejarah para pendahulu kita tidak mungkin merebut kemerdekaan dari kaum menjajah melainkan dengan kuatnya keyakinan kepada Allah, Aqidah yang kokoh, serta pemudanya siap berjuang untuk Allah dan negerinya. Sehingga melihat kemerdekaan Indonesia harusnya dirasakan secara menyeluruh, maka ulama Indonesia mengambil langkah dengan melakukan jihad melawan imperialisme, sampailah pada titik dikeluarkan resolusi jihad oleh ulama besar Indonesia pendiri NU.  Bangkitnya keadaran  nasional yang diprakarsai oleh ulama dan para pejuang lainnya dan dimotori oleh semangat juang pemuda yang sadar serta memiliki kemampuan intektual yang tinggi, sampailah pada kesepakatan untuk bangunan NKRI di kokohkan dalam konferensi Meja Bundar( KMB) di Belanda yang mewakilkan Indonesia Adalah wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta.

 

Memasuki zaman moderen yang semua serba digital, pemuda Indonesia dituntut memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menghadapi era baru dan membawa harapan untuk capaian Indonesia emas tahun 2045.  Melihat catatan sejarah perjuangan bangsa serta indikator peradaban  manusia maka bisa saja solusi untuk menyelamatkan bangsa ini dari sekapan neolib negara adidaya adalah dengan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia, mewujudkan kedaulatan rakyat dengan konsep bernegara yang cenderung melihat kepentingan rakyat. Nilai persatuan, dan kesadaran untuk berjuang menjadi kekuatan yang paling ampuh sebab seluas apapun negara kita bahkan sebanyak apapun manusianya, tapi klau tidak bersatu dan meningkatkan kemampuan diri (SDM) maka kita akan selamanya menjadi sasaran empuk pera kaum neolib, bahkan bisa saja Indonesia bukan lagi menjadi negara kesatuan tapi negara yang terpecah belah. Kita tentunya tidak mengharapkan itu terjadi, maka dalam rentan waktu yang relatif cepat untuk mencapai Indonesia emas, dan saat ini umur kemerdekaan Indonesia sudah berumur 75 tahun harusnya janji kemerdekaan itu tercapai dengan upaya pendidikan, Agama dan kebudayaan. Ketiga Indikator ini menjadi bangunan peradaban serta strategi  Indonesia mampu bersaing dan kembali menjadi negara yang disegani di dunia.

 

Oleh : Saat Fatseý (Alumni UIC)


Opini Lainnya


11 August 2020