Menghubungkan Teori dengan Realitas: Alasan Kunjungan Industri Harus Menjadi Bagian dari Kurikulum Wajib

25 July 2026

Selama ini, kita sering terjebak dalam dikotomi keliru antara "teori" dan "praktik". Di bangku kuliah, teori sering dipandang sebagai konsep yang hanya hidup di ruang seminar, sedangkan industri dianggap sebagai dunia nyata yang dingin dan pragmatis. Namun, melalui kunjungan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta ke stasiun televisi nasional tvOne baru-baru ini, penulis semakin yakin bahwa pendidikan tinggi tidak seharusnya dibatasi oleh tembok kelas.

Kunjungan edukatif mahasiswa ke tvOne ini bukan sekadar trip edukatif, melainkan  pengalaman mendalam yang perlu dirasakan oleh setiap mahasiswa. Mendengarkan presentasi dari Humas tvOne  Apriano M. Perkasa tentang manajemen krisis dan verifikasi fakta membuka mata saya, ternyata, definisi gatekeeping yang selama ini saya pelajari di buku teks terasa sangat berbeda dari kenyataan yang menuntut ketangkasan pada momen-momen kritis. Inti dari kunjungan ini adalah pengakuan terhadap kerentanan informasi.

Dalam era ketika berita palsu bertebaran, industri media tidak hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga harus bertindak sebagai penjaga kredibilitas. Penjelasan mengenai cara kerja sistem transmisi seperti yang dijelaskan Penanggung Jawab Berita Daerah tvOne Marihot Paris P. Samosir semakin memperkuat keyakinan saya bahwa komunikasi massa adalah perpaduan rumit antara seni menyampaikan cerita dan ketahanan infrastruktur.

Aspek teknis ini sering kali luput dari perhatian kita yang lebih banyak berfokus pada teori tentang dampak media. Saya melihat rekan-rekan mahasiswa yang sebelumnya skeptis kini perlahan mulai menunjukkan semangat yang menyala. Mengapa demikian? Mereka tidak lagi memandang industri televisi sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan sebagai medan tempur yang nyata.

Namun, jika kita merenung lebih dalam, mengapa pengalaman vital seperti ini sering kali hanya dianggap sebagai agenda opsional atau program musiman? Di sinilah kritik terhadap kurikulum konvensional perlu disuarakan. Pendidikan tinggi kita kerap menderita “menara gading” karena terlalu fokus pada dunianya sendiri dengan teori-teori yang ketinggalan zaman, tetapi tidak siap menghadapi disrupsi teknologi di dunia kerja.

Saat mahasiswa Ilmu Komunikasi harus menghafal model komunikasi linier tanpa pernah memahami penerapannya di newsroom yang dinamis, kita sebenarnya menciptakan pengangguran intelektual baru. Kita memberi mereka peta lama untuk menjelajahi kota modern yang telah berubah sepenuhnya.

Kunjungan ke industri penyiaran seperti tvOne menunjukkan dengan jelas bahwa dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang bisa menghafal, tetapi juga individu yang mampu bekerja di bawah tekanan atau memiliki intuisi jurnalistik yang tajam.

Universitas harus lebih sering mengadakan "panggilan untuk bangkit" seperti ini. Dosen pendamping Hidayati Artarini dan Kristopo dengan tepat menekankan bahwa pengalaman ini berfungsi sebagai jembatan. Namun, saya ingin menambahkan lebih jauh: ini bukan sekadar jembatan, melainkan simulasi masa depan.

Di era disrupsi saat ini, gelar sarjana kehilangan "nilai jual" jika hanya didasarkan pada hafalan teori. Yang diperlukan adalah integritas yang terbentuk melalui paparan terhadap realitas. Mahasiswa harus ditempa sejak dini agar mengerti bahwa sebagai praktisi komunikasi, mereka harus siap menghadapi tekanan, akurat dalam bekerja, dan tanggap terhadap perubahan yang sangat dinamis.

Selain itu, memasukkan kunjungan industri penyiaran ke dalam kurikulum wajib akan mengatasi masalah lama terkait rendahnya tingkat penyerapan lulusan antara dunia pendidikan dan sektor industri. Perusahaan sering mengeluh bahwa lulusan baru membutuhkan waktu pelatihan yang panjang karena kurang familiar dengan lingkungan kerja yang sesungguhnya. Dengan mewajibkan program kunjungan industri yang terstruktur, diikuti oleh tugas analisis berbasis kasus nyata di lokasi, mahasiswa didorong untuk menjadi pemecah masalah sejak semester pertama.

Mereka diajak memahami bagaimana teori manajemen konflik diterapkan saat sebuah stasiun TV menghadapi tuntutan hukum, atau bagaimana teori komunikasi organisasi dijalankan dalam hierarki kerja dari produser berita hingga floor director dan news anchor. Ini merupakan bentuk pembelajaran aktif yang tidak dapat digantikan oleh metode ceramah satu arah di ruang kelas yang nyaman

Pengalaman di tvOne ini merupakan pemantik yang mengubah cara pandang dari seorang pembelajar teori yang pasif menjadi pelaku komunikasi yang selalu mencari tantangan. Pada akhirnya, pendidikan komunikasi yang benar-benar berkualitas bukanlah yang mengandalkan banyaknya buku yang tersedia, melainkan yang paling berani mengajak mahasiswanya keluar dari zona nyaman untuk berinteraksi langsung dengan dinamika industri.

Manajemen universitas perlu berani mengambil langkah progresif dengan menjadikan kunjungan industri sebagai syarat kelulusan atau bagian penting dari mata kuliah inti, bukan sekadar tambahan dalam rencana studi.

Akhirnya, pendidikan komunikasi yang benar-benar bermutu dan bertanggung jawab tidak bersandar pada kemegahan gedung atau banyaknya buku teks di perpustakaan. Pendidikan yang sesungguhnya adalah yang berani mendorong mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman, melampaui batas ruang kelas, dan berhadapan langsung dengan realitas industri yang dinamis.

 

Penulis: Dahlia Eka Umayah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIC Jakarta

 


Whatsapp