Rasionalitas Islam, Irasionalitas Muslim

12 August 2020

Wahyu pertama yang disampaikan oleh Jibril as, Iqra, memerintahkan Muhammad SAW kala itu untuk keluar dari “mengurung” diri dalam gua Hira agar mulai melakukan pembacaan tentang alam semesta. Beliau masih gemetaran ketika kembali kerumah dan kembali mengurung diri dalam selimut di kamarnya sehingga akhirnya Allah SWT kembali menurunkan Al Mudatsir. Ini adalah sebuah bentuk motivasi yang luar biasa. Tapi ini juga mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya perintah “membaca” yang dicanangkan dalam wahyu pertama tersebut.

Membaca semesta, yang dimulai dari diri sendiri sampai tepian langit sana, bukanlah hanya dengan melihat dan mendengar serta pengerahan anggota panca indra lainnya. Tapi juga dengan memikirkan bagaimana semua itu bisa terjadi. Hal ini telah Allah SWT perintahkan dalam ratusan ayat Al Quran dengan kalimat2 tanya : Apakah kamu tidak memikirkannya? Apakah kamu tidak mentadaburinya?. Dengan demikian jelas bahwa Islam menjunjung tinggi akal sehat atau sikap rasional.

Ketika kita membaca Al Qur’an, akan terlihat bahwa rasionalitas telah dijadikan dasar utama dalam berdialog dengan konteks dimana wahyu diturunkan, baik wahyu wahyu dalam kurun Mekkah maupun dalam kurun Madinah. Berikut adalah contoh bagaimana Al Quran menolak sikap irasionalitas taqlid kaum musyrik Mekkah :

Surah Al-Baqara, ayat 170:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Melihat situasi terkini sebagian kaum Muslim, kita akan mendapatkan banyak kejadian yang menggambarkan betapa kecendrungan bersikap irasional tersebut sudah demikian mengkhawatirkan. Kita bisa melihatnya dalam berbagai media berita dimana respon-respon yang terjadi terkait suatu peristiwa cenderung asbun ( asal bunyi ). Pada masa kampanye pemilu lalu, sikap irasional itu terlihat semakin menjadi-jadi dengan kemunculan berita-berita hoax yang berusaha ( dan diusahakan ) tampil dalam kemasan rapi bernuansa “profesional”.

Irasionalitas Muslim, dengan merujuk kepada Al Quran, jelaslah disebabkan oleh tidak teroptimalkannya penggunaan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Tidak lagi menjadi akal sehat, tapi akal yang sesat. Pertanyaan “Apakah kamu tidak ( mau ) berpikir? ” ( baca :” menggunakan akalmu”), yang bertebaran dalam Al Qur’an, sudah seharusnyalah dijadikan pemicu untuk bersikap kritis bagi seorang muslim dimanapun dan kapanpun dia berada ketika dia harus menghadapi berbagai persoalan di dalam hidupnya.

Wallahualam

 

Oleh : Moehammad Ferryzal