Santri: Agen Kebudayaan (Ono Rusyono)

24 October 2026

Ketika perayaan hari santri tiba, yg ada dikepala saya justru tidak lagi bagaiamana menyusun kegiatan memperingati nya. Tetapi sy mencoba berbagi pemikiran yg tidak kalah pentingnya dari sebuah peringatan adalah bagaiamana santri bukan sekedar menjaga dan melestarikan,tapi menambah horizon kebudayaan menjadi tambah bernilai.

Karena zaman telah banyak perubahan, pola pergerakan dari para aktor dan kepentingan juga berubah bentuk dan warnanya. Bahkan tidak segan bersedia mempelajarinya dan ikut mengamalkannya. Sehingga santri sebagai sumber nilai kebudayaan bangsa perlu meningkatkan horizonnya supaya kelak tidak ditinggalkan. 

Karena berbicara santri sebagai agen kebudayaan, sesungguhnya telah banyak tertinggal dari pesatnya pembangunan dan kemajuan. 

Dari segi literatur,berapa kitab yg dihasilkan dulu dengan santri skrg. Berapa karya kitab yg mengisi cabang dan ranting Ranting keilmuan yg dikaji dan diteliti oleh para santri. Dari segi kemandirian ekonomi dan politik. Dari segi spesifikasi ilmu yg digunakan. Kalau kita estimasikan santri skrg ini berapa persen produktivitas dari santri dulu?.

Kemajuan yg mendukung produktifitas telah diciptakan. Horizon hubungan antara ulama dan umat dan masyarakat semakin dekat, dan Teknologi memproduksi nya dengan sangat simetris.

Oleh karena itu, pertanyaannya adalah: mampukah santri hari ini meningkatkan horizon kebudayaannya, melampaui sekadar menjaga dan melestarikan, untuk ikut memproduksi kemajuan dan melahirkan karya-karya baru yg relevan dengan perubahan zaman? Atau, sudah saatnya sistem pendidikan di pesantren ditinjau kembali agar santri tidak hanya menjadi pewaris kebudayaan, tetapi juga menjadi penggerak dan pencipta kebudayaan baru?

 

Oleh: Ono Rusyono


Whatsapp