Burhan Ali—Autofagi Spiritual: Saat Sel Tubuh Berdzikir Melalui Puasa

14 February 2026

Selama berabad-abad, puasa Ramadhan dipahami sebagai ritual ketaatan yang mematikan keinginan ragawi demi menghidupkan kekuatan ruhani. Namun, kemajuan sains modern kini menyingkap tabir yang lebih menakjubkan: di balik rasa lapar yang kita rasakan, terjadi sebuah mekanisme "pembersihan besar-besaran" di tingkat seluler yang disebut Autofagi.

Secara etimologi, autofagi berasal dari bahasa Yunani, auto (sendiri) dan phagein (makan). Istilah ini merujuk pada proses di mana sel-sel tubuh mengidentifikasi, menghancurkan, dan mendaur ulang komponen yang rusak seperti protein beracun atau organel sel yang sudah usang. Menariknya, mekanisme ini hanya aktif secara optimal saat tubuh berada dalam kondisi defisit energi atau kelaparan yang terkontrol.

Laboratorium Pembersihan Seluler

Pada tahun 2016, Yoshinori Ohsumi meraih Nobel Kedokteran atas temuannya mengenai mekanisme autofagi. Penelitiannya membuktikan bahwa puasa adalah pemicu utama (saklar) bagi tubuh untuk melakukan regenerasi. Saat kita berpuasa selama 12 hingga 14 jam, sel-sel tidak lagi fokus pada pertumbuhan, melainkan pada bertahan hidup dan perbaikan.

Dalam perspektif ilmiah, sel-sel yang rusak jika dibiarkan akan menjadi sampah biologis yang memicu peradangan, kanker, hingga penyakit degeneratif seperti Alzheimer. Puasa memaksa sel untuk "memakan" sampah tersebut dan mengubahnya menjadi energi baru. Inilah bentuk efisiensi luar biasa dari tubuh manusia, sebuah desain dari Sang Pencipta yang memastikan bahwa ketiadaan asupan justru menjadi jalan pembersihan.

Puasa: Perintah yang Menghidupkan

Fenomena autofagi ini menjadi validasi saintifik terhadap firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

"...Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." [Q.S. Al-Baqarah [2]: 184.]

Ayat ini menegaskan bahwa manfaat puasa kembali kepada manusia itu sendiri, baik secara spiritual maupun fisik yang baru terbukti secara sains berabad-abad kemudian. Frasa "jika kamu mengetahui" dalam ayat tersebut seolah menjadi tantangan bagi umat manusia untuk menggali rahasia di balik perintah puasa. Pengetahuan tentang autofagi menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan cara kita memberikan kesempatan bagi sel tubuh untuk "berdzikir" kembali ke fitrahnya yang bersih dan berfungsi optimal. 

Rasulullah SAW juga telah memberikan isyarat mengenai kebersihan tubuh melalui puasa dalam sebuah hadis:

"Segala sesuatu itu ada zakatnya, dan zakatnya badan adalah puasa." [H.R. Ibnu Majah No. Hadis 1745]

Hadis ini menggunakan analogi zakat (pembersihan) untuk menggambarkan esensi puasa bagi kesehatan tubuh manusia. Dalam syariat, zakat berfungsi untuk mensucikan harta. Dalam biologi, puasa berfungsi sebagai "zakat" seluler: mengeluarkan "kotoran" biologis (protein rusak dan racun) agar sisa komponen sel menjadi suci dan sehat kembali.

Menuju Kesalehan Biologis

Mengintegrasikan autofagi ke dalam pemahaman ibadah mengubah cara kita memandang rasa lapar. Lapar bukan lagi siksaan, melainkan alarm bahwa proses pembersihan sedang berlangsung. Namun, perlu diingat bahwa manfaat autofagi ini bisa terhambat jika kita "balas dendam" saat berbuka dengan karbohidrat dan gula berlebih. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Irsyadul Ibad mengingatkan bahwa inti puasa adalah mematahkan nafsu, bukan sekadar menundanya hingga azan Maghrib tiba.

Autofagi menuntut kesederhanaan. Agar sel tetap bisa melakukan regenerasi pasca-berbuka, asupan nutrisi harus dijaga agar tidak memicu lonjakan insulin yang ekstrem. Di sinilah letak sinkronisasi antara sains dan sunnah: berbuka secukupnya bukan hanya soal etika, tapi soal menjaga efisiensi mesin biologis kita.

Kesimpulan

Ramadhan adalah momentum di mana spiritualitas dan biologi bertemu dalam satu harmoni. Autofagi adalah bukti bahwa setiap perintah Tuhan memiliki dampak fisik yang nyata. Saat kita menahan lapar karena iman, sel-sel kita sedang bekerja keras melakukan pemurnian. Kita tidak hanya sedang menata hati, tapi juga sedang memahat ulang kesehatan tubuh dari dalam. Pada akhirnya, fenomena autofagi yang terjadi selama Ramadhan menegaskan bahwa syariat Islam tidak pernah berdiri berseberangan dengan hakikat penciptaan manusia. Puasa bukan sekadar jeda makan yang bersifat pasif, melainkan sebuah orkestrasi biologis yang aktif, di mana sel-sel tubuh melakukan "muhasabah" dengan mendaur ulang kegagalan fungsional menjadi energi kehidupan yang baru. Jika di siang hari lisan kita berdzikir menyebut asma-Nya, maka di saat yang sama, triliunan sel dalam tubuh kita pun sedang melakukan ketaatan biologis melalui proses penyucian diri dari sampah-sampah toksik.

Memahami Ramadhan melalui kacamata "Autofagi Spiritual" menyadarkan kita bahwa kesehatan fisik dan kesalehan ruhani adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab klasik bahwa lapar adalah cahaya hati (tanwir al-qalb), sains modern membuktikannya melalui regenerasi saraf dan pembersihan seluler yang meningkatkan fokus serta vitalitas. Oleh karena itu, menjaga adab makan saat berbuka dan sahur menjadi krusial; karena berlebihan dalam mengonsumsi makanan bukan hanya melanggar etika sunnah, tetapi secara mekanis menghentikan "dzikir seluler" (autofagi) yang sedang bekerja keras memulihkan tubuh kita. Ramadhan adalah momentum tahunan untuk meriset ulang seluruh eksistensi kita—menjadikan kita pribadi yang tidak hanya lebih bertaqwa secara spiritual, tetapi juga lebih tangguh dan murni secara biologis.

 

*Profil Penulis:

Dr. H. Burhan Ali, Lc, M.A. adalah dosen tetap Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Beliau merupakan alumni dari Hassan II University, Casablanca, Maroko, dan menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas PTIQ Jakarta pada tahun 2025. Selain aktif dalam dunia akademik, beliau bertugas menjadi pembimbing ibadah haji dan umrah di Biro Perjalanan Umrah dan Haji.


Whatsapp