Bulan suci ramadlan 1447 H Kembali hadir sebagai momentum spiritual yang sangat berharga bagi umat Islam di seluruh dunia. Ramadlan bukan sekadar ritual tahunan berupa menahan lapar dan dahaga dan juga hubungan seksual, tetapi tetapi merupakan proses Pendidikan Rohani untuk memperkuat iman, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk karakter manusia yang lebih sabar, jujur dan peduli terhadap sesame. Nmun, di Tengah derasnya arus globalisasi yang membawa kemajuan teknologi, informasi dan budaya, nilai-nilai spiritual tersebut menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Globalisasi telah mengubah cara manusia hidup, berinterakrasi, dan memandang dunia. Kemajuan teknologi digital, media social dan budaya konsumtif sering kali mendorong manusia pada gaya hidup yang materialistic, instan dan hedonistic. Nilai kesederhanaan, pengendalian diri, dan kontemplasi yang menjadi esensi Ramadhan berpotensi tergerus oleh budaya serba cepat dan berorientasi pada kesenangan sesaat. Banyak orang lebih sibuk dengan gawai, hiburan digital, dan aktivitas duniawi disbanding memperbanyak ibadah, membaca al Quran atau meakukan refleksi diri.
Padahal Ramadhan hadir justeru sebagai penyeimbang dalam kehidupan modern. Puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, bukan hanya nafsu makan dan minum, tetapi juga nafsu amarah, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Dalam konteks globalisasi, puasa menjadi Latihan spiritual untuk membangun ketahanan moral dan mental. Ketika manusia menahan diri dari hal-halnyang halal di siang hari, maka seharusnya ia lebih mampu menahan diri dari hal-hal yang dilarang dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu Ramadhan juga mengajarkan nilai kepedulian social, di Tengah globalisasi yang sering menumbuhkan individualism, Ramadhan justeru memperkuat solidaritas, melalui zakat, infak dan sedekah. Nilai ini sangat relevan dalam membangun masyarakay yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga berkeadilan dan berkemanusiaan. Keteladanan Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa Ramadhan Adalah bulan peningkatan kualitas diri sekaligus peningkatan epedulian terhadap orang lain.
Pada akhirnya, tantangan globalisasi bukanlah alas an utuk melemahkan iman, melainkan kesempatan untuk membuktikan kekuatan spiritual umat Islam. Ramadhan menginatkan bahwa di Tengah dunia yang semakin modern dan kompleks, manusia tetap membutuhkan ketenangan jiwa, nilai moral dan kedekatan dengan Tuhan.
Dengan menjadikan ramdhan sebagai momentum refleksi dan transformasi diri, umat Islam tetap kokoh dalam iman sekaligus mampu beradaptasi secara bijak dalam dunia global yang terus berubah.