TUJUH DEKADE CAHAYA ILMU DAN IMAN: Universitas Ibnu Chaldun Jakarta dan Warisannya bagi Peradaban Bangsa

10 June 2026

Jakarta, 2 Juni 2026 — Tujuh puluh tahun bukan sekadar angka. Bagi sebuah universitas, tujuh dekade adalah bentang panjang pengabdian, saksi bisu pergantian zaman, sekaligus cermin teguhnya sebuah komitmen: melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas di akal, tetapi juga mulia di akhlak dan kokoh di iman.

Tanggal 11 Juni 2026, Universitas Ibnu Chaldun Jakarta — yang akrab disapa UIC — genap berusia 70 tahun. Sebuah usia yang dalam tradisi Islam disebut sab'una sanah, bilangan yang penuh makna kesempurnaan. Ini bukan sekadar milad. Ini adalah perayaan peradaban.

Dari Wartawan Pejuang ke Menara Ilmu

Sedikit yang menyadari bahwa di balik nama besar Universitas Ibnu Chaldun berdiri seorang wartawan sejati: Parada Harahap, sang King of the Java Press, pendiri Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA, yang menanamkan benih pendidikan tinggi ini pada tahun 1951 melalui Akademi Wartawan. Semangat itu tidak padam meski rintangan datang bertubi. Pada tanggal 4 Februari 1956, lahirlah Jajasan Ibnu Chaldun sebagai badan hukum pengelola Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik (PTIKP), dan pada 11 Juni 1956 diperingati sebagai hari lahir Universitas Ibnu Chaldun.

Nama yang dipilih pun bukan sembarangan. Nama Ibnu Chaldun diusulkan oleh Prof. Dr. Osman Raliby — seorang cendekiawan Indonesia yang lama belajar di Jerman — diambil dari nama ilmuwan besar, Bapak Sosiologi Islam, Abu Zayd Abd al-Rahman ibn Muhammad Ibnu Chaldun al-Hadrami, yang lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H. Pemilihan nama ini bukan sekadar kehormatan simbolik. Ia adalah pernyataan ideologis: bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sayap dari satu burung yang sama — burung peradaban.

Di sinilah letak keistimewaan UIC yang kerap luput dari perhatian publik luas. Ketika banyak pihak masih memperdebatkan dikotomi ilmu umum versus ilmu agama, UIC telah sejak awal berdirinya meletakkan fondasi bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Universitas Tertua di Jakarta yang Melahirkan Pemimpin Bangsa

Tujuh puluh tahun adalah perjalanan panjang yang tidak sia-sia. Dalam perjalanannya berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa, UIC telah melahirkan para alumni yang menjadi tokoh nasional, di antaranya Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin (Wakil Presiden RI ke-13), Dr. A.M. Fatwa (alm., mantan Wakil Ketua DPR RI dan Wakil Ketua MPR RI), Ahmad Muzani (Wakil Ketua MPR RI), Dr. Zainut Tauhid Sa'adi (mantan Wakil Menteri Agama RI), para anggota DPR RI, Duta Besar, advokat, pengusaha, dan birokrat.

Nama-nama itu bukan sekadar prestasi institusional. Nama-nama itu adalah buah nyata dari sebuah filosofi pendidikan yang dirawat turun-temurun: ilmu harus berpadu dengan iman, dan iman harus terwujud dalam akhlak.

KH. Ma'ruf Amin, misalnya, lulus dari Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun Jakarta pada tahun 1967, sebelum kemudian menjadi ulama paling berpengaruh di Indonesia — Ketua MUI, Rais Aam PBNU, dan akhirnya Wakil Presiden Republik Indonesia. Beliau sendiri berharap UIC dapat terus berkembang dan menjadi universitas yang "unggul Iptek dan kokoh Imtaq." Kata-kata itu terasa seperti doa seorang anak kepada almamaternya — almamater yang telah membentuk fondasi intelektual dan spiritualnya.

Dalam perspektif komunikasi Islam, kisah alumni-alumni UIC ini adalah dakwah bil hal yang paling nyata. Mereka bukan hanya berbicara tentang Islam; mereka menghidupi nilai-nilai Islam di ruang-ruang publik, di kursi-kursi kekuasaan, di balik kebijakan-kebijakan negara. Inilah yang oleh Ibnu Chaldun sendiri disebut sebagai 'ashabiyyah — solidaritas dan kekuatan kolektif yang lahir dari pendidikan dan nilai bersama.

UIC dan Misi Keadilan Pendidikan

Di tengah hiruk-pikuk kompetisi perguruan tinggi yang kian bergerak ke arah eksklusivitas — di mana biaya kuliah melambung tinggi dan pendidikan berkualitas terasa hanya milik mereka yang berpunya — Universitas Ibnu Chaldun Jakarta hadir sebagai antitesis yang menyegarkan.

UIC berkomitmen untuk tetap menjadi ruang pendidikan yang terjangkau. Bukan terjangkau dalam arti murah kualitasnya, tetapi terjangkau dalam arti dapat dijangkau oleh siapa saja — anak-anak dari keluarga buruh, pedagang pasar, petani, dan mereka yang bermimpi besar tetapi berkantong tipis. Komitmen ini bukan kebijakan bisnis semata; ia adalah pernyataan teologis. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim tanpa memandang status sosial. UIC didirikan dengan visi untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan berwawasan luas.

Dalam lanskap Jakarta yang kian mahal, keberadaan UIC di Jalan Pemuda I Kav. 97 Rawamangun — lokasi strategis di jantung Jakarta Timur, mudah diakses dari berbagai penjuru kota — menjadikannya oasis pendidikan yang sesungguhnya. Tidak perlu merantau jauh. Tidak perlu menanggung beban biaya yang mencekik. Cukup datang, belajar, dan jadilah bagian dari mata rantai panjang keilmuan Islam yang telah tujuh dekade dirajut dengan penuh kesabaran.

Memadukan Keilmuan dan Agama: Relevansi yang Tak Lekang Zaman

Sebagai seorang yang telah mengabdikan diri di UIC selama bertahun-tahun, saya menyaksikan sendiri bagaimana kampus ini bukan sekadar tempat transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan karakter. Mahasiswa tidak hanya belajar agama, hukum, ekonomi, komunikasi, secara terpisah-pisah. Mereka belajar bagaimana semua disiplin ilmu itu bermuara pada satu tujuan: menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Inilah yang dalam tradisi keilmuan Islam disebut ilmu ladunni yang berpadu dengan ilmu kasbi — ilmu yang diperoleh melalui kerja keras akademik yang disinari cahaya nilai-nilai Ilahi. Ibnu Chaldun sendiri, sang tokoh yang namanya diabadikan dalam kampus ini, adalah sosok yang membuktikan bahwa seorang ilmuwan bisa sekaligus menjadi seorang yang saleh; bahwa kejernihan analisis sosial tidak harus berbenturan dengan kedalaman iman.

Di era kecerdasan buatan, disrupsi digital, dan krisis identitas yang melanda generasi muda, model pendidikan integratif yang UIC tawarkan justru semakin relevan. Generasi Z dan Alpha membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Mereka membutuhkan jangkar nilai, kompas moral, dan kedalaman spiritualitas yang membuat mereka tidak mudah terombang-ambing oleh gelombang perubahan yang datang silih berganti.

Pesan untuk Usia 70: Tetap Muda dalam Semangat Pengabdian

Tujuh puluh tahun adalah usia kematangan. Namun bagi UIC, ini bukan saat untuk berpuas diri; ini adalah momentum untuk memperbarui semangat dan memperluas dampak. Beberapa hal yang saya kira perlu menjadi prioritas ke depan:

Pertama, memperkuat ekosistem penelitian yang berakar pada nilai-nilai Islam dan menjawab persoalan nyata masyarakat. Riset yang bukan hanya mengejar angka sitasi, tetapi riset yang mulia karena memberi solusi.

Kedua, mengoptimalkan teknologi digital sebagai medium dakwah dan pembelajaran — selaras dengan semangat dakwah digital yang kini menjadi keniscayaan zaman. UIC harus hadir tidak hanya di gedung kuliah, tetapi juga di ruang-ruang digital tempat generasi muda menghabiskan waktunya.

Ketiga, mempertegas komitmen pada keterjangkauan sebagai bagian dari amanah sejarah. Setiap mahasiswa yang mendapat kesempatan belajar di UIC karena biayanya terjangkau adalah investasi peradaban yang pahalanya tidak ternilai.

Keempat, terus memperluas jaringan kolaborasi dengan berbagai lembaga — baik dalam negeri maupun internasional — untuk memperkuat posisi UIC sebagai pusat kajian komunikasi Islam, dakwah digital, dan moderasi beragama di tingkat nasional dan global.

Penutup: Tujuh Dekade, Satu Cita

Ketika upacara pengukuhan Jajasan Ibnu Chaldun digelar di Gedung Pemuda, Jalan Merdeka Utara, pada 11 Juni 1956, mungkin tidak ada yang membayangkan bahwa benih yang ditanam hari itu akan tumbuh menjadi pohon besar yang menaungi ribuan insan terdidik selama tujuh dekade. Namun begitulah kerja keikhlasan — ia tidak butuh sorotan untuk tumbuh, cukup air yang konsisten dan tanah yang subur.

Kini, di usia 70 tahun, Universitas Ibnu Chaldun Jakarta berdiri sebagai bukti nyata bahwa pendidikan yang memadukan ilmu dan agama, yang terbuka untuk semua kalangan, yang lahir dari semangat pengabdian bukan semangat komersial, adalah pendidikan yang bertahan — dan lebih dari itu, pendidikan yang mengubah.

Selamat ulang tahun ke-70, Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Semoga tetap menjadi mercusuar ilmu, benteng iman, dan ladang akhlak bagi generasi bangsa yang akan datang.

Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur — sebuah negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun. Cita-cita itu dimulai dari sini, dari ruang-ruang kuliah yang sederhana namun penuh berkah, di kampus yang telah tujuh dekade menjaga amanah para pendirinya.

Ditulis dalam rangka Dies Natalis ke-70 Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, 11 Juni 2026.

 

Penulis: Retna Dwi Estuningtyas, M.Kom.I Dosen KPI & Wakil Dekan FAI Universitas Ibnu Chaldun Jakarta | Doktor Jurnalistik Dakwah | Ahli Komunikasi Islam


Whatsapp