Kampanye "Saring Sebelum Sharing": Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Chaldun Ajak Siswa SMK Tirta Sari Surya Kritis Hadapi Hoaks

25 July 2026

Jakarta – Tim mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta menggelar kampanye literasi digital bertajuk “Saring Sebelum Sharing” di SMK Tirta Sari Surya, Rabu (16/7/2026). Kegiatan yang menyasar siswa-siswi kelas XI ini digagas sebagai respons atas tingginya arus informasi yang beredar di media sosial tanpa disertai proses verifikasi yang memadai.

Kampanye ini mengangkat pesan utama “Saring Sebelum Sharing” dengan tagline “Klik Cerdas, Sebar Fakta”, sekaligus memperkenalkan konsep SARING sebagai panduan praktis bagi siswa sebelum membagikan informasi: Selidiki sumbernya, Analisis isi beritanya, Review fakta pendukung, Identifikasi motif informasi, Nilai kebenarannya, dan Gunakan logika sebelum membagikan.

“Kami tidak hadir untuk menggurui, tetapi untuk berdiskusi dan belajar bersama, karena hampir semua orang, termasuk kami, pernah membagikan informasi sebelum sempat memastikan kebenarannya,” ujar salah satu pembawa acara, Diyan Baihaqi, saat membuka kegiatan.

Dikemas Interaktif dan Kompetitif

Kegiatan dipandu oleh dua pembawa acara, Diyan Baihaqi dan Aditya, dengan rangkaian acara yang disusun agar audiens tetap aktif dari awal hingga akhir. Sesi diawali dengan ice breaking seputar kebiasaan bermedia sosial peserta, dilanjutkan sambutan resmi dari Ketua Tim Kampanye “Saring Sebelum Sharing”, Danil Winata, yang membuka kegiatan secara simbolis.

Peserta kemudian dibagi ke dalam empat kelompok besar untuk mengikuti sesi permainan dan tantangan berpoin yang berlangsung selama pemaparan materi. Skema kompetitif ini dirancang agar siswa lebih terlibat aktif, sekaligus menumbuhkan semangat berpikir kritis secara kolektif. Kelompok dengan perolehan poin tertinggi berhak membawa pulang grand prize yang telah disiapkan panitia.

Bahaya Hoaks dan Cara Menangkalnya

Materi inti disampaikan oleh Raden Aisyah, yang mengangkat topik “Bahaya Hoaks dan Literasi Digital di Era Media Sosial”. Dalam pemaparannya, Raden Aisyah menegaskan bahwa hoaks merupakan informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menipu masyarakat, menggiring opini publik, menimbulkan kepanikan, hingga meraih keuntungan sepihak melalui klik, iklan, atau modus penipuan.

"Berita hoaks merupakan informasi palsu yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu maupun masyarakat."

Ia memaparkan sejumlah dampak nyata dari penyebaran hoaks, mulai dari menimbulkan kepanikan dan keresahan, memecah persatuan masyarakat, hingga merusak nama baik seseorang atau lembaga. Untuk itu, peserta diajak mengenali ciri-ciri berita hoaks dengan memeriksa sumber berita, membaca isi berita secara lengkap dan tidak hanya berpatokan pada judul, serta membandingkannya dengan pemberitaan dari media yang kredibel.

Sebagai langkah pencegahan, Raden Aisyah mendorong siswa untuk tidak langsung memercayai informasi yang viral, secara konsisten meningkatkan literasi digital, serta berani melaporkan konten hoaks yang ditemukan di media sosial. Sesi ini turut diperkuat dengan simulasi hoaks-atau-fakta yang menguji kepekaan peserta terhadap sejumlah isu, mulai dari mitos kesehatan hingga data pengguna media sosial di Indonesia.

Deklarasi Komitmen dan Kuis Kilat

Menjelang penutupan, panitia mengumumkan kelompok dengan perolehan poin tertinggi selama sesi materi dan permainan berlangsung, sekaligus menguji pemahaman audiens melalui tiga pertanyaan kilat seputar definisi hoaks, cara verifikasi informasi, dan alasan pentingnya memastikan kebenaran berita sebelum dibagikan.

Seluruh peserta kemudian diajak berdiri bersama untuk mengucapkan deklarasi komitmen sebagai generasi digital yang kritis dan bertanggung jawab: “Saya berkomitmen untuk selalu memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menggunakan media sosial secara bijak, serta menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.” Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama, di mana peserta menampilkan poster kampanye “Saring Sebelum Sharing” melalui akun Instagram sekolah masing-masing.

Target Terukur bagi Generasi Muda

Kampanye ini menyasar siswa SMA/SMK berusia 15–18 tahun yang dinilai sebagai kelompok pengguna media sosial paling aktif, namun rentan terpengaruh informasi viral tanpa proses verifikasi. Panitia menetapkan indikator keberhasilan berupa minimal 80 persen peserta mampu menjawab benar sebagian besar soal cek fakta setelah mengikuti kegiatan, sebagai tolok ukur efektivitas edukasi yang diberikan.

Kegiatan ini turut didukung oleh personil pendukung kampanye, Rafa Omar Moreno dan Fattah Akhdan, yang berperan dalam kelancaran teknis dan dokumentasi acara. Ketua Tim Kampanye, Danil Winata, berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan direplikasi di sekolah-sekolah lain agar semakin banyak pelajar yang terbekali kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi digital.

“Satu klik share dari kita dapat memengaruhi ratusan bahkan ribuan orang. Karena itu, menyaring informasi sebelum membagikannya bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab setiap pengguna media sosial,” tutup Danil Winata.

 

Penulis: Nayla Abidah

Editor: Danil Winata


Whatsapp