Generasi Z sering dipandang sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi digital. Sejak usia dini mereka telah hidup berdampingan dengan media sosial, mesin pencari, platform video, hingga kecerdasan buatan. Hampir seluruh aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi, belajar, berbelanja, hingga membangun relasi sosial, dilakukan melalui platform digital yang digerakkan oleh algoritma. Kondisi tersebut sering dipersepsikan sebagai bentuk kemajuan yang memberikan kebebasan dalam memperoleh informasi dan mengekspresikan diri. Namun, jika ditinjau melalui perspektif teori kritis Herbert Marcuse, kebebasan tersebut justru perlu dipertanyakan.
Dalam bukunya One-Dimensional Man (1964), Marcuse menjelaskan bahwa masyarakat modern berada dalam sistem yang mampu menciptakan kebutuhan-kebutuhan semu (false needs). Manusia merasa bebas memilih, padahal pilihan tersebut telah dibentuk oleh sistem ekonomi, teknologi, dan industri budaya. Di era digital, algoritma media sosial bekerja dengan cara yang sangat serupa. Platform digital terus mempelajari perilaku pengguna, kemudian menyajikan konten yang paling mungkin menarik perhatian mereka. Akibatnya, pengguna merasa memilih sendiri apa yang ingin mereka lihat, padahal sebenarnya mereka sedang diarahkan oleh logika algoritmik yang mengejar durasi penggunaan, keterlibatan, dan keuntungan ekonomi.
Fenomena ini sangat terlihat pada Generasi Z. Algoritma TikTok, Instagram, YouTube, maupun platform digital lainnya secara terus-menerus membangun preferensi pengguna melalui rekomendasi yang dipersonalisasi. Semakin lama seseorang mengonsumsi jenis konten tertentu, semakin sempit pula ruang informasi yang diterimanya. Dalam situasi ini, algoritma tidak lagi sekadar menjadi alat bantu pencarian informasi, tetapi telah menjadi mekanisme yang membentuk cara berpikir, selera, bahkan identitas pengguna.
Marcuse menyebut kondisi tersebut sebagai lahirnya manusia berdimensi tunggal (one-dimensional man), yaitu individu yang kehilangan kemampuan berpikir kritis karena seluruh kebutuhannya telah dipenuhi oleh sistem. Konsep ini menjadi sangat relevan ketika melihat kecenderungan Generasi Z yang lebih sering mengonsumsi informasi singkat dibandingkan melakukan eksplorasi mendalam terhadap suatu isu. Informasi yang terus-menerus dikurasi oleh algoritma menciptakan kenyamanan psikologis, tetapi sekaligus mengurangi kesempatan untuk bertemu dengan perspektif yang berbeda.
Lebih jauh lagi, algoritma media sosial tidak hanya memengaruhi konsumsi informasi, tetapi juga membentuk standar kesuksesan, kecantikan, gaya hidup, bahkan orientasi karier. Konten-konten yang dianggap populer akan terus direkomendasikan, sedangkan konten yang tidak sesuai dengan logika popularitas cenderung tersingkir. Akibatnya, Generasi Z sering kali mengejar validasi digital melalui jumlah pengikut, jumlah tanda suka, atau jumlah tayangan tanpa menyadari bahwa indikator tersebut merupakan konstruksi platform digital. Dalam perspektif Marcuse, kondisi ini merupakan bentuk dominasi yang halus karena individu merasa sedang mengekspresikan dirinya sendiri, padahal sebenarnya mengikuti pola yang telah dibangun oleh sistem teknologi.
Ironisnya, dominasi algoritma berlangsung tanpa paksaan. Berbeda dengan bentuk kekuasaan tradisional yang bersifat represif, algoritma bekerja melalui kenyamanan, hiburan, dan personalisasi. Pengguna tidak merasa dikendalikan karena seluruh rekomendasi tampak sesuai dengan minat mereka. Padahal, semakin tinggi tingkat personalisasi, semakin besar pula peluang terbentuknya ruang gema (echo chamber) yang mempersempit wawasan serta memperkuat bias informasi.
Melalui perspektif teori kritis Herbert Marcuse, algoritma dapat dipahami sebagai instrumen dominasi baru dalam kapitalisme digital. Kebebasan yang dirasakan Generasi Z sesungguhnya merupakan kebebasan yang telah dikondisikan oleh sistem teknologi dan kepentingan ekonomi platform digital. Oleh karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus membangun kesadaran kritis mengenai bagaimana algoritma bekerja, siapa yang memperoleh keuntungan darinya, serta bagaimana pengguna dapat mempertahankan otonomi berpikir di tengah derasnya arus personalisasi informasi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Generasi Z bukanlah kemampuan mengakses informasi, melainkan kemampuan mempertanyakan informasi yang mereka terima. Sebagaimana diajarkan Marcuse, masyarakat yang benar-benar merdeka adalah masyarakat yang tetap mampu berpikir kritis di tengah sistem yang berusaha menentukan apa yang harus dipikirkan, diinginkan, dan dipercayai.
Daftar Pustaka
Bucher, T. (2018). If... Then: Algorithmic power and politics. Oxford University Press.
Couldry, N., & Mejias, U. A. (2019). The costs of connection: How data is colonizing human life and appropriating it for capitalism. Stanford University Press.
Marcuse, H. (1964). One-dimensional man: Studies in the ideology of advanced industrial society. Beacon Press.
Pariser, E. (2011). The filter bubble: What the Internet is hiding from you. Penguin Press.
Sunstein, C. R. (2018). #Republic: Divided democracy in the age of social media. Princeton University Press.