Dalam suatu perjalanan hidup, iman manusia bisa bertambah dan bisa berkurang. Itu terjadi karena unsur-unsur yang terdapat di dalam manusia terdiri dari dua bagian yaitu tubuh dan ruh. Ruh membutuhkan zat spiritual dari tuhan dan tubuh membutuhkan akses dalam kegiatan panca indera. Mata, tangan, kaki dan nalar logika membutuhkan akses untuk keperluannya. Iman manusa berada pada dua kutub itu, disatu sisi spiritualitas tinggi dan di sisi lain tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan untuk berkegiatan.
Zaman yang bertumbuh dan berkembang melingkupi manusia dalam perubahan iman. Revolusi pertanian menjadikan iman manusia memiliki kemelekatan dengan iklim dan cuaca. Revolusi industri menjadikan iman manusia memiliki kedekatan dengan kapitalis berciri hedonis. Revolusi teknologi membuat iman menjadi available dalam segala situasi dan kondisi. Dan revolusi internet membuat iman manusia terpaku pada satu cahaya gadget yang bernama Scroll.
Dalam salah satu definisi iman adalah, “membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”. Kapasitas keimanan manusia memenuhi unsur membenarkan informasi yang benar dan salah dengan filter hati/kalbu, iman pada manusia mengikrarkan dengan lisan aksi dan reaksi yang tengah terjadi di kancah pergolakan dunia, iman pada manusia yang lebih tinggi adalah mengamalkan perbuatan baik dan mencegah kemungkaran dengan anggota badan. Pemimpin negara beriman salah satunya adalah dengan membuat kebijakan yang mengatasnamakan rakyat sesuai konstitusi negara. Pemimpin universitas beriman dengan cara menjalankan tridharma perguruan tinggi sesuai arahan kementrian pendidikan tingg riset dan teknologi, pemimpin rumah tangga beriman melalui kasih sayang dan cinta serta berkeadilan pada istri dan anak-anaknya. Dosen yang beriman adalah yang rutin mengisi Beban Kinerja Dosen sebagai bentuk patuh pada akademik ilmiah, Mahasiswa beriman melalui perwujudan menjalani perkuliahan dengan rajin dan memiliki semangat keilmuan sehingga membentuk karakter ilmiah dan menjadi agen perubahan kebaikan dan kemajuan di masa depan.
Media sosial adalah platform digital yang memungkinkan penggunanya untuk menciptakan, berbagi konten serta berkomunikasi dalam jejaring virtual.
Scroll adalah kegiatan panca indera penglihatan mata dan jari tangan yang disampaikan ke syaraf otak manusia dan memiliki dampak kenikmatan beberapa menit dalam skala yang berulang kali. Manusia di zaman revolusi internet dalam dunia digital virtual terdominasi oleh kegiatan scroll. Melihat dan mendengar informasi dari konten-konten kreator. konten politik, ceramah agama, hiburan, whatsapp grup, lagu remix dan experimen sosial menjadi pemicu jari tangan melakukan aktivitas scroll. Iman manusia bersisian dengan kehidupan virtual scroll media sosial. Apa yang menjadi dampaknya?
Scroll Skill
Positif :
1. Stimulasi Kreatifitas & Inspirasi
Kreatifitas tercipta karena terdorong untuk mengunggah ke platform media sosia dan ide-ide kreatif, memasak, berjualan online, mengabarkan perkembangan sosial menjadi dampak ketrampilan scroll yang bermanfaat
2. Kebutuhan Afiliasi & Dukungan Sosial
Circle pertemanan mendapatkan jejaring sosial yang lebih luas serta mendapatkan dukungan sosial bagi netizen yang mengirimkan like, comment bahkan gift bagi konten kreator, sehingga kebutuhan manusia akan dukungan sosial terpenuhi.
Negatif :
1. Munculnya Perasaan Social Comparison (Perbandingan Sosial)
Dampak lain yang bersisian dengan kejiwaan yang kurang baik adalah netizen penyuka scroll gadget akan memiliki perasaan perbandingan sosial. “aku tidak lebih kaya dari dia”, aku tidak lebih glowing dari dia”, “aku tidak memiliki pasangan yang lebih baik dari dia”, adalah ciri khas membandingkan status sosial antara konten kreator dan netizen. Munculnya perasaan perbandingan sosial akan mengotori jiwa dan kalbu ketika iman manusia dalam titik terendah.
2. Terjadinya Doom Scrolling & Kelelahan Cognitif
Doomscrolling (atau kadang disebut doom surfing) adalah kebiasaan terus menerus menelusuri berita atau konten media sosial yang bersifat negatif, menyedihkan, atau menakutkan, meskipun konten tersebut membuat kita merasa cemas dan tidak berdaya. Istilah ini menjadi sangat populer sejak masa pandemi, ketika banyak orang tidak bisa berhenti mencari informasi buruk meskipun hal itu merusak kesehatan mental.
Mengapa manusia melakukannya? Meskipun terdengar aneh---mengapa manusia mencari hal yang membuat manusia sedih--- ada alasan psikologis yaitu:
Insting bertahan hidup, secara evolusi, otak manusia dirancang untuk waspada terhadap bahaya. Manusia merasa bahwa dengan mengetahui “berita buruk” sebanyak mungkin, manusia jadi lebih siap menghadapi ancaman.
Pencarian jawaban, di tengah ketidakpastian, manusia berharap bahwa scroll satu kali lagi akan memberikan jawaban atau solusi yang menenangkan, padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Algoritma media sosial, aplikasi dirancang untuk membuat manusia terus berada disana. Jika manusia berinteraksi dengan konten yang memicu emosi kuat (seperti kemarahan atau ketakutan), algoritma akan terus menyuguhkan konten serupa.
Kelelahan Kognitif
Kecemasan meningkat, tubuh tetap dalam kondisi fight or flight
Ganguan tidur, cahaya biru dari layar dan pikiran yang gelisah membuat sulit tidur
Kelelahan mental. Otak merasa “terkuras” karena memproses terlalu banyak tragedi tanpa ada jeda
Solusi
Batasi hanya untuk menambah wawasan ilmu, tetapkan batas waktu, gunakan fitur screen time atau app timer untuk membatasi akses media sosial, misalnya hanya 15 menit di pagi hari.
Hapus akun toksik, unfollow atau mute akun-akun yang hanya menyebarkan ketakutan tanpa memberikan solusi atau nilai tambah keimanan.
Ganti dengan “joy scrolling”, secara sadar carilan konten-konten yang positif, lucu atau menginspirasi untuk menyeimbangkan algoritma keimanan manusia.
Letakkan ponsel sebelum tidur, jauhkan ponsel dari jangkauan setidaknya 30-60 menit sebelum memejamkan mata.
Kegiatan ketrampilan cogintif di dunia nyata lebih ditumbuhkan dan ditingkatkan berinteraksi fisik dengan manusia lain
Perdalam kajian agama sebagai penguat iman dalam memfilter scrolling sehingga iman stabil dan bertumbuh tanpa terpapar konten terlalu dominan.
Kesimpulan iman di era scroll sebagai bagian dari kehidupan manusa yang sudah bersisian seiring sejalan, iman yang dinamis adalah iman yang berlatar belakang sifat khas manusiawi yang ingin stabil dalam kehidupan dunia dan bekal untuk kehidupan akherat bersama dengan revolusi internet ditiap jenis pertumbuhan dan perkembangannya tanpa merasa dikuasai penuh oleh kegiatan scroll, tetapi menjadi manusia yang memegang kendali menjadi bagian dunia yang selalu berkembang sepanjang masa. Wallahu’allam bish showab.
Catatan:
Tulisan ini menjadi tema Pesantren Ramadhan Universitas Ibnu Chladun Jakarta yang diselenggarakan oleh Fakultas Agama Islam dan penulis menjadi narasumber dari kegiatan pesantren ramadhan yang telah diadakan pada tanggal 28 dan 29 Februari 2026.