Pendahuluan
Di tahun 2026 kebutuhan manusia banyak melibatkan teknologi. Internet yang sudah berkembang pesat menjadi bagian kebutuhan manusia akan mencari jati dirinya. Berbicara tentang manusia, tentu tidak cukup melihat dari sisi lahiriah saja. Jauh lebih dari itu adalah sisi bathiniahnya. Kedua wilayah ini sangat perlu diperhatikan guna mencapai kebahagian hakiki manusia yaitu dunia dan akhirat. Hal yang mendasar
berkaitan dengan manusia adalah tentang kebutuhannya. Kebutuhan sandang pangan papan (penghasilan, makan minum, dan rumah tinggal) ditambah lagi dengan kebutuhan kuota internet. Tanpa kuota internet kebutuhan manusia menjadi kurang lengkap dikarenakan sudah seperti kebutuhan primer.
Hal-hal yang mendasari uraian tentang kebutuhan manusia adalah Pertama, Kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow adalah kebutuhan yang lebih dahulu diutamakan, dari perspektif maqasid syari’ah diwakili dan dikomparasikan dengan pemikiran Al-Ghazali adalah kebutuhan mana yang harus dilindungi.
Kedua, sesuai dengan basic penelitian Maslow yang berdasar pada rasio, empirik dan naluriah (ilmiah), bertepatan dengan kondisi pasca Perang Dunia II, Ia menekankan teorinya pada kebutuhan fisik manusia yang harus diutamakan dibanding kebutuhan lainnya. Sedangkan Al-ghozali dengan pendekatan tasawufnya, yang bersumber dari nash-rasio dengan latar belakang adanya krisis spiritual pada saat itu, menekankan
perlindungan agama sebagai satu hal yang paling utama. Sebab, menurutnya, puncak dari maqasid syariah yang berupa maslahah adalah menjaga tujuan-tujuan syara’.
Dan di tahun 2026 Bulan Maret perang dunia ketiga antara negara Amerika yang bersekutu dengan zionis Israel menyerang Negara Iran, maka secara rasio empirik kebutuhan manusia tersandera oleh minyak bumi dan jalur perdagangan di selat Hormuz yang menjembatani negara timur tengah, asia dan eropa. Dalam permulaan akan terjadinya perang dunia ketiga ini sumber jiwa agama menjadi penyerta kekuatan manusia akan kebutuhannya dann pertolongan tuhan untuk keadilan karena penyerangan dari negara Amerika dan Israel telah membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sehingga agama menjadi penyatu kekuatan dalam memenuhi kebutuhan keadilan dan keamanan sebuah negara merdeka dan berdaulat terutama bagi Gaza Palestina.
Ketiga, Maslow menekankan puncak kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri yang lebih bersifat individual dan materialistik. Dalam sudut pandang masa kini aktualisasi di media sosial yang bersifat individual (selfish) dan materialitik sudah semarak terjadi, sedangkan menurut Imam Al-Ghazali adalah menekankan tentang maslaha ‘am (Kesejahteraan umum), yaitu di masa kini dengan pemerataan akses publik bagi masyarakat desa dan kota dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kebutuhan Manusia Dalam Perspektif Abraham Maslow
Maslow adalah seorang psikolog yang pemikirannya banyak dimanfaatkan dalam ilmu manajemen. Di sisi lain, Pemikirannya juga memiliki implikasi pada ranah filosofis sehingga dapat membantu beberapa pertanyaan kuno filsafat manusia tentang apa dan siapa
manusia. Selain itu, Maslow bukanlah seorang materialis ataupun platonis. Artinya, ia tidak memandang manusia sebagai sepotong materi yang berkembang cukup tinggi, bukan pula “roh” yang harus membebaskan diri dari “penjara tubuh”. Karenanya, benar bahwa manusia harus memenuhi kebutuhan fisiknya lebih dulu. Jika tidak, ia akan mati.
Di sisi lain, kebutuhan akan sesama manusia juga penting. Di sinilah Maslow ingin menunjukkan bagaimana manusia dengan berbagai kebutuhannya dapat mengaktualisasikan diri menjadi manusia utuh.
Berkaitan dengan persoalan ini, terdapat ilmuwan lain yang memberikan perhatian cukup serius tentang keberadaan manusia. Imam Al-Ghazali, salah satu ilmuwan Muslim sekitar abad 11 yang lalu telah memberikan pemahaman mengenai manusia dengan segala sesuatu yang menjadi aspeknya termasuk kebutuhan. Menurut Imam Al-Ghazali kebutuhan manusia wajib dilindungi sebagai aset utama kebahagiaannya. Pemenuhan perlindungan itu diwakili oleh perlindungan negara atas aset-aset rakyat yang telah dimiliki sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan dan hidup di seluruh provinsi di Indonesia.
Abraham Maslow dan Pemikirannya tentang Kebutuhan Manusia
Pemikiran Abraham Maslow tentang manusia sangat dipengaruhi oleh; kebutuhan fisik (physiological needs),
kebutuhan akan rasa aman ( Safety needs) kebutuhan akan kepemilikan dan cinta (The belongingness and love Needs),kebutuhan untuk dihargai (The esteem Needs),
kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization)
Kebutuhan Manusia Terhadap Agama
Setelah terjadi serangan rudal ke negara Iran atas perintah presiden Amerika yang bersekutu dengan Israel di pertengahan bulan Maret 2026 (dalam bulan Ramadhan 1447H) yang menewaskan Presiden Iran Ayatollah Ali Khamenei, oleh sebab itu manusia/umat Islam selalu membutuhkan panutan untuk menjalankan prinsip keadilan dan kemanusiaan sebagai bagian kebutuhan fisik dan ruhnya. Presiden Donald Trump sebagai manusia tidak akan pernah merasa puas atas apa yang telah mereka miliki dan perbuat, oleh karena itu manusia lain harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kebutuhan pokok seperti kebutuhan primer, skunder dan tersier.
Semua kebutuhan tersebut harus diiringi dengan keyakinan, manusia dapat mengatur hidupnya dengan adanya keyakinan atau Agama yang mereka anut, oleh sebab itu agama merupakan salah satu kebutuhan manusia yang juga tidak kalah penting dibandingkan dengan kebutuhan pokok tersebut. Dengan memiliki agama, manusia dapat mengendalikan segala sesuatu yang dihadapi dalam kehidupannya, manusia dapat mengendalikan hawa nafsu mereka dengan aturan keyakinan mereka masing-masing, kebutuhan manusia terhadap agama bukanlah kebutuhan yang dianggap mudah, karna agama dapat membuat manusia meyakini apa yang mereka lakukan dalam kehidupan mereka masing-masing, dalam Agama Islam manusia memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan kodratnya, maka dalam agama islam manusia dapat mengatur kehidupannya dengan baik.
Mengapa manusia membutuhkan agama?
1. Latar Belakang Fitrah Manusia
Fitrah manusia adalah membutuhkan agama untuk menyalurkan ruhaninya akan kebutuhan akan tuhan. Semakin manusia bertumbuh dan berkembang maka kebutuhan akan memiliki agama menjadi sebuah standar keseimbangan. Pertumbuhan manusia mengalami pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif ditandai dengan tumbuh tinggi berkembang dan kematangan mental . Pada masa bayi kebutuhan agama dipenuhi oleh kedua orangtunya, masa anak dan remaja pertumbuhan fisik dan akalnya membentuk pencarian akan tuhannya, dan ketika semakin dewasa semakin mengukuhkan untuk menyempurnakan fitrahnya sebagai manusia yang akan kembali pada tuhannya
2. Kelemahan dan kekurangan manusia
Dalam sejarah peradaban manusia telah tertulis dalam lembar-lembar kitab dan jurnal dunia bahwa manusia memiliki kelemahan iman dan kekurangan fungsi nalar manusia sehingga mengakibatkan adanya penjajahan, peperangan dan kerusakan bumi dan alam.
3. Tantangan manusia
Tantangan manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan agama bersumber dari lingkungan tempat tinggal, pendidikan yang didapatkan dan ilmu yang telah diterima oleh orangtua dan pemberian fasilitas negara dalam mewujudkan kebutuhan agama tersebut. Jika terpenuhi maka kebutuhan manusia akan menjamin kelangsungan hidupnya. Dan apabila terhambat maka menjadi tantangan manusia dalam meraih kebutuhan manusia tersebut
Berbagai Pendekatan Dalam Memahami Agama
1. Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan melalui ilmu ketuhanan bagi manusia dalam memahami kebutuhan dan menemukan agama adalah hal berlangsung sesuai norma-norma masyarakat. Keyakinan terhadap tuhan dan agama akan mengikat prinsip hidup manusia untuk berproses dalm menguatkan karakter kepribadian. Menemukan tuhan menjalankan prinsip agama dan terbentuk kepribadian mandiri yang stabil menjadi landasan kuat bagi seorang manusia menjalani hidup di dunia.
2. Pendekatan Antropologi
Pendekatan antropologi lebih menguraikan kepada kaitan manusia dengan tempat lahir dan hidup manusia itu berasal. Maka setiap keyakinan dan pencarian agama menjadi sesuatu yang mengikat kuat pada tanah kelahiran dan budaya yang berada di sekitar hidup mereka.
3. Pendekatan Sosiologis
Pendekatan sosiologis lebih menguraikan dan memahami kaitan komunikasi antara manusia dengan manusia yang lain. Dan antara manusia dengan komunitas lembaga yang menyatukan kesamaan visi dan misi dalam memenuhi kebutuhan dan kesesuaian prinsip hidup manusia yang dipilih berdasarkan kemandirian konsep hidupnya.
4. Pendekatan Filosofis
Pendekatan filosofis membantu manusia memilah dan memilih hal-hal yang utama dan esensi dalam hidup. Berfikir yang besar untuk kemaslahatan negara menciptakan ide yang akan dipakai oleh banyak orang dan menjalai kehidupan yang sunyi dari iri dengki dan hal-hal tidak bermanfaat menjadi cara manusia-manusia filosofis menemukan kebenaran hakiki dalam hidupnya. Dan di tahun 2026 ini peran seorang dosen filsafat yanglah lama berkiprah di dunia kampus dan di media sosial youtube seperti Dr. Fakhrudin Faiz, memberi arah bawa pandangan filosofis menjadi indikator utama dalam memenuhi kejiwaan agama pada manusia.
Konsep Kebutuhan Ekonomi Dalam Islam
Islam memandang bahwa bumi dan segala isinya merupakan “amanah” dari Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan umat manusia. Untuk mencapai tujuan yang suci ini Allah tidak meninggalkan manusia sendirian tetapi diberikannya petunjuk melalui para rasulnya.
Pemenuhan kebutuhan manusia dalam pandangan Islam, yaitu senantiasa mengkaitkannya dengan tujuan utama manusia diciptakan yaitu ibadah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka Allah menghiasi manusia dengan hawa nafsu (syahwat), dengan adanya hawa nafsu ini maka muncul keinginan dalam diri manusia. Allah SWT berfirman di dalam surah Ali Imran ayat 14:
Yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak.
Sumber Ajaran Agama Dalam Perspektif Psikologis
Secara konseptual tentang berbagai kebutuhan dasar manusia sebagai sumber kehidupan bagi manusia dalam ranah psikologis. Melalui eksplorasi-psikologis diperoleh fakta bahwa ada berbagai macam kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang dapat dikembangkan guna menunjang hidup dan kehidupannya. Sedangkan melalui pengamatan potensi-diri diperoleh fakta bahwa dalam diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan, termasuk diantaranya adalah potensi untuk percaya pada supernatural (agama). Sinergi antara eksplorasi-psikologis dengan potensi-diri manusia akan membentuk sumber-sumber keyakinan terhadap agama secara psikologis. Karena itu, dalam konteks ini, tanpa adanya wahyu pun sesungguhnya manusia akan
mampu mengenal Tuhan. Wahyu hanya berfungsi sebagai pemberitaan dari alam metafisika yang turun kepada manusia untuk menerangkan tentang Tuhan sekaligus kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan
manusia terhadap Sang Khalik maupun sesamanya. Singkatnya secara psikologis, siapa mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya. Karena itu manusia wajib mempercayai dan meyakini akan adanya
Tuhan serta melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya.
Beberapa faktor yang mendorong manusia untuk menganut agama dalam hidup dan kehidupannya, antara lain adalah:
1. Mengatasi Frustrasi
Frustasi sering kali dipandang sebagai ketidak sinkronan antara harapan manusia (keinginan, doa atau usaha) dengan kenyataan yang terjadi. Hal ini bisa menyentuh aspek eksistensial dan spiritual seseorang. Cara mengatasinya menjalani mekanisne religious coping seperti doa, meditasi atau pasrah/tawakal sebagai alat untuk memproses emosi dan mencari makna di balik kegagalan. Rekonstruksi makna meaning making yaitu individu mengubah sudut pandang terhadap penderitaan atau hambatan dari sebuah hukuman menjadi ujian atau sarana pendewasaan diri. Dukungan komunitas dan ritual, melihat peran keterlibatan dalam kelompok keagamaan dan pelaksanaan ritual kolektif dalam menurunkan tingkat stres serta memberikan rasa memiliki.
2. Mengatasi Perasaan Takut.
Rasa taku sering dipandang sebagai sinyal emosional yang mengundang seseorang untuk mencari perlindungan pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mengatasi asa taku bukan berarti menghilangkan sama sekali, melainkan mengubah objek atau kualitas ketakutan tersebut menjadi sesuatu yang memberdayakan. Zikir dan doa serta meditasi sebagai regulasi emosi dapat menenangkan sistem saraf amigdala (pusat rasa takut) dan memberikan rasa aman melalui koneksi dengan tuhan. Konsep tawakal/trusth dan penyerahan diri dapat mengurangi kecemasan akanmasa depan dengan cara memindahkan beban kontrol dari pundak manusia ke pundak tuhan. Mengubah takut menjadi harapan (khauf dan roja’) menjadi keseimbangan psikologis akan kasih sayang tuhan yang menciptakan motivasi hidup yang stabil.
3. Menjaga Kesusilaan
Menjaga kesusilaan merupakan proses internalisasi nilai-nilai spiritual ke dalam struktur kepribadian. Kesusilaan dipandang sebagai ekspresi dari kesehatan mental yang terintegrasi dengan keyakinan kepada tuhan. Conscience/hati nurani merupakan internalisasi nilai dan pembentukan dari ajaran agama yang diserap oleh individu hingga menjadi suara batin yang membimbing tindakan susila secara otomatis, bahkan tanpa pengawasan orang lain. Self-control adalah peran akses dan pengendalian diri dalam memperkuat kemampuan individu untuk menahan godaan yang merusak kesusilaan. Altruisme dan empati adalah kesusilaan dalam relasi sosial mendorong perilaku susila dalam bentuk penghormatan, kejujuran dan kepedulian terhadap sesama.
4. Memuaskan Intelektual
Pemuasaan intelektual bukan sekedar aktivitas kognitif untuk mengumpulkan informasi, melainkan perjalanan pencarian makna yang mendalam. Ketika seseorang berhasil menyelaraskan rasio akal dengan iman maka akan berdampak signifikan pada struktur kepribadian dan kualitas hidupnya. Inteletualitas sebagai jembatan menuju kedamaian batin terdiri dari; integrasi iman dan rasio yaitu mencapai keyakinan yang lebih kokoh karena didasarkan pada pemahaman yang logis dan reflektif. Resiliensi dalam menghadapai krisis existensial yaitu bagaimana pemuasan intelektul terhadap pertanyaan-pertanyaan besar seperti penderitaan atau kematian memberikan makna yang melindungi seseorang dari keputusasaan. Open-mindedness yaitu pertumbuhan kepribadian yang terbuka meliha bagaimana kepuasan intelektual dalam beragama justru mendorong seseorang untuk lebih toleran, bijaksana, dan terus belajar, daripada menjadi kaku atau merasa paling benar.
Teori-teori Sumber Agama Secara Psikologis
1. Teori Monistik
Teori monistik adalah pandangan yang berusaha menjelaskan pengalaman religius melalui satu prinsip tunggal atau satu sumber penyebab saja. Kata monistik berasal dari bahasa Yunani monos yang bearti tunggal. Teori ini menolak adanya pemisahan antara aspek jiwa dan raga atau aspek psikologis dan spiritual. Dalam konteks ini pengalaman beragama tidak dianggap sebagai sesuatu yang datang dari luar manusia (supranatural), melainkan hasil dari proses satu kesatuan sistem dalam diri manusia itu sendiri. Monisme materealistik perspektif neuropsikologi membahas bagaimana pengalaman religious dianggap murni sebagai hasil dari aktivitas saraf di otak dalam pandangan bahwa manusia memiliki perasaan dekat dengan tuhan sebagai reaksi kimia dan elektrik saja yang tercipta di lobus temporal. Monisme psikologis perspektis psikoanalisis, menjelajahi pandangan bahwa agama adalah proyeksi tunggal dari kebutuhan dasar manusia, seperti keinginan akan perlindungan figur ayah atau manisfestasi dari ketidaksadaran kolektif. Dampaknya terhadap makna ibadah jika manusia hanya menggunakan satu sudut pandang (monistik), hal itu mengubah cara manusia memandang ritual dan keyakinan apakah itu sebuah kebenaran objektif atau sekedar ungsi biologis/psikologis untuk bertahan hidup.
2. Teori Fakulti
Teori faculty psychology adalah pandangan klasik yang membagi jiwa manusia ke dalam beberapa fakultas atau kekuatan mental yang terpisah seperti akal, kehendak dan perasaan. Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana manusia menerima dan memproses pengalaman religius. Teori ini memiliki bagian spesifik dari mental manusia bahwa manusia yang bertanggung jawab atas keberagamaan pilihan hidup. Hal ini terjadi disebabakan faktor-faktor; intellectual faculty dominasi akal bahwa gama difahami melalui penalaran logis dan bukti-bukti rasional yang berakibat iman adalah hasil dari pemikiran yang matang. Feeling faculty dominasi perasaan, menyatakan bahwa inti agama bukanlah aturan atau logika melainkan perasaan ketergantungan mutlak kepada yang ilahi. Will faculty dominasi kehendak, melihat agama sebagai dorongan untuk bertindak dan berperilaku moral dengan fokus ada keputusan sadar manusia untuk patuh pada ajaran agama.
Kesimpulan
Kebutuhan manusia berubah di setiap zaman dan berkesesuain dengan penemuan teknologi terbaru. Sumber kejiwaan keagamaan setiap manusia tergantung dari kitab yang dibaca, tempat dimana manusia dilahirkan, lingkungan dimana manusia dibesarkan dan ilmu yang didapatkan memberi dampak hikmah dan kebijaksanaan dalam perkembangan usia manusia.
Daftar Pustaka
Gunawijaya, R. (2017). Kebutuhan Manusia Dalam Pandangan Ekonomi Kapitalis dan Ekonomi Islam. Jurnal Al-Maslahah, 13(4), 131–150.
Hamali, S. (2013). Sumber Agama Dalam Perspektif Psikologis. Jurnal Kalam Studi Agama Dan Pemikiran Islam, 7(1), 163–182.
Liswi, H. (2018). Kebutuhan Manusia Terhadap Agama. Jurnal Ilmu Agama UIN Raden Fatah, 12(2), 201–223. https://jurnalpencerahan.org/index.php/jp/article/view/27/24
Muazaroh, S., & Subaidi, S. (2019). Kebutuhan Manusia Dalam Pemikiran Abraham Maslow (Tinja
uan Maqasid Syariah). Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum, 7(1), 17. https://doi.org/10.14421/al-mazaahib.v7i1.1877