Syarifah, S.Kom.I., M.Pd.I. - Masuk Sekolah Lagi, Guru Harus Fokus Pada Strategi Pembelajaran Student Centered Learning

07 January 2026

Masuk sekolah sudah berjalan di minggu kedua bulan Januari 2026, peserta didik bergembira, gurupun mendapatkan semangat mengajar tahun baru yang mengawali aktivitas pembelajarannya.

Pembelajaran adalah sebuah proses yang melekat di dalam sebuah sekolah. Menjalani pembelajaran tidak hanya berfokus pada guru sebagai pemberi ilmu pengetahuan baru kepada peserta didik, tetapi peserta didik juga memiliki peranan penting dalam sebuah proses pembelajaran. Berdasarkan Bloom’s Taxonomy (Cognitive Domain) peserta didik harus menjalani dua proses kognitif; yang pertama adalah ketrampilan dasar berfikir nalar dalam bentuk mengingat tema pelajaran, mengerti tema pelajaran dan mengendapkan dalam hati dan akal untuk dijalani dalam kehidupan sehari di sekolah dan di rumah. Kedua adalah Ketrampilan berfikir lanjutan lebih tinggi dari dasar berfikir nalar dalam bentuk menganalisa tema pelajaran, mengevaluasi hasil penerimaan ilmu dari guru dan proses diskusi bersama peserta didik yang lain dan menciptakan pendapat baru yang bersandar pada pendapat lama yang lebih kekinian.

Tingkatan dasar berfikir nalar ilmiah dalam mengingat, mengerti dan menerapakan ilmu sebagai proses awal mengikuti pembelajaran yang berfokus pada peserta didik mengoptimalkan perannya sebagai subjek pendidikan. Tingkatan lebih tinggi dari berfikir nalar ilmiah denga konsep menganalisa tema dalam proses pembelajaran menambah semangat peserta didik untuk mengaktifkan fungsi kognitif berfikir dan belajarnya sehingga dapat mengevaluasi dan menciptakan sudut pandang baru yang dihargai oleh guru dan peserta didik yang lain. Dari uraian tersebut maka peserta didik menjadi Centered atau pusat pembelajaran yang mengoptimalkan kognitive mereka dalam menerima ilmu pengetahuan.

Cara pandang peserta didik di tahun 2026 menginginkan jati diri mereka diakui secara lembut dan bersahabat oleh guru dan peserta didik lain di dalam kelas pembelajaran. Seorang guru atau pendidik menciptakan kreativitas baru model belajar yang menyenangkan untuk menumbuhkan motivasi dalam meningkatkan hasil belajar.  Andil yang besar akan diberikan oleh guru ketika pembelajaran dapat menggiring pada hasil pencapaian belajar peserta didik. Dan peserta didik mengikuti pembelajaran dengan usaha partisipatif yang menunjukkan kolaborasi kegembiraan dengan  gurunya di kelas.

 

              Peserta didik sebagai objek pendidikan yang berlandaskan sistem pendidikan nasional yang terencana membentuk proses belajar yang aktif dalam mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan dalam bentuk karakter yang berbudi pekerti luhur, pengendalian diri, kepribadian harmonis, kecerdasan yang bersinergi dengan iman dan takwa serta memiliki ketrampilan khusus yang akan berguna untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

              Lembaga pendidikan yang memiliki peserta didik  yang ilmiah, cerdas, bertanggung jawab pada proses pembelajaran dan berpotensi aktif menghadirkan prestasi di sekolah akan membentuk peradaban bangsa yang bermanfaat dalam zaman revolusi internet untuk tetap menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, sehat dan berkhlak mulia sesuai Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Salah satu strategi pembelajaran yang tepat untuk dapat mendukung kualitas peserta didik adalah model pembelajaran Student Centered Learning (SCL). Istilah student centered learning (SCL) merupakan suatu model pembelajaran dalam dunia pendidikan dan pengajaran terdapat di dalamnya peserta didik memiliki tanggung jawab beberapa aktivitas penting seperti mengikuti jadwal kelas dengan terencana, mengikuti proses belajar dengan semangat ilmiah, melakukan komunikasi partisipastif dengan guru dan peserta didik yang lain, melakukan pengamatan berkala di tiap pertemuan kelas untuk dapat meneliti penemuan baru, dan memberikan penilaian terhadap suatu tema pelajaran untuk mengumpulkan dan mengukur pencapaian hasil pembelajaran yang telah dikerjakan.

Beberapa masalah yang dihadapi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di sekolah adalah minimnya interaksi pengetahuan yang didapatkan dari guru kepada mereka. Peserta didik cenderung pasif dan guru cenderung memiliki kuasa penuh atas pemberian materi pelajaran, maka Student Centered Learning ini membekali peserta didik untuk menjadi pusat gravitasi pembelajaran kelas. Belajar untuk bertindak aktif, belajar untuk menjadi peserta didik yang ilmiah, belajar untuk menjadi bagian belajar kolektif bersama dan memahami pembelajaran lebih mendalam untuk mencapai kearifan ilmu dan budi pekerti.

Ilmu pengetahuan lama yang dibawa oleh peserta didik dibangun kembali kerangka berfikir ilmiahnya untuk menambah tingkat pengetahuan peserta didik melalui interaksi dengan materi pelajaran dan interaksi dengan teman sekelas untuk diterapkan dalam kehidupan sehari adalah unsur mendasar dari teori konsktuktivisme.

              Guru sebagai jabatan profesional melaksanakan pembelajaran membutuhkan kemampuan dan keahlian dalam mengelola kelas, membimbing. Memotivasi, memecahkan masalah dan mengevaluasi. Jabatan guru harus diperoleh melalui pendidikan berjenjang yang diakui keabsahannya dan dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat sebagai legitimasi jabatan tersebut.

              Gabungan dari pengetahuan, ketrampian, sikap dan perilaku yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan secara efektif dan profesional wajib dimiliki oleh  guru untuk mendukung tugas pembelajaran kelas bersama peserta didik. Sikap kompetensi yang sangat berguna bagi pendidik di sekolah adalah amanah yang dijalankan sebagai bagian dari mencerdeskan kehidungan bangsa.

              Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Sertifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, meliputi:

  1. Kompetensi Pedagogik

Belajar yang menyenangkan dan bermartabat dalam meneguhkan nilai kemandirian peserta didik dari segi aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual dalam bingkai kurikulum yang dikembangkan sesuai zaman peserta didik menjalani proses belajar. Kemajuan teknologi komputer dan media pembelajaran yang berbasis internet memberikan peluang informasi dan komunikasi diterima dan dijalankan oleh penyelenggara kegiatan pembelajaran atau pengembangan pendidikan. Fasilitas ruangan kelas membantu mengembangkan potensi peserta didik. Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

  1. Kompetensi Kepribadian

Bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur berakhlak mulia, dan telaan bagi peserta didik dan masyarakat. Menampilkan diri sebagai pribadi yang sabar, tekun, mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru dan rasa percaya diri. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

  1. Kompetensi Sosial

Meminimalkan pembullyan oleh peserta didik lain dengan bertindak hormat, santun dan objektif dalam bertoleransi kepada  agama, ras, kondisi fisik dan latar belakang keluarga serta status sosial ekonomi menjadikan komunikasi dua arah dengan peserta didik yang lain secara efektif, empatik dan simpatik mejadi bagian dari kecakapan sosial dimana saja seorang guru ditempatkan dalam bertugas. Menjunjung kehormatan komunitas profesi dengan elegan dan santun.

  1. Kompetensi Profesional

Menguasai materi, struktur, konsep dan landasan kelimuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang pengembangan yang diampu. Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

         Dalam pembelajaran di kelas guru wajib memiliki Ketrampilan Dasar Mengajar yang terdiri dari ketrampilan membuka dan menutup pelajaran, ketrampilan bertanya, ketrampilan penguatan (reinforcement), ketrampilan menggunakan variasai,  ketrampilan menjelaskan, ketrampilan mengelola kelas, ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil, dan ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan (Rohman, 2019).

         Dalam melakukan pembelajaran ketrampilan dasar mengajar ini menjadi landasan utama yang dimiliki guru dalam memberikan ilmu kepada peserta didik dan juga untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada kepribadian peserta didik agar menjadi manusia yang mensejajarkan adab dan ilmu di kehidupan sehari-hari.

Strategi pembelajaran berbasis Student Centered yang berfokus pada perencanaan, pembelajaran, interaksi antara guru dan peserta didik, penelitian sederhana dalam kapasitas mereka sebagai peserta didik dan evaluasi menyeluruh dari keterlibatan peserta didik bersama guru kelas menjadikan peserta didik sebagai pusat belajar aktif sehingga bersinergi dengan ketrampilan dasar guru.

Menggabuangkan Bloom’s Taxonomy dengan strategi pembelajaran berbasis student centered menjadikan tujuan pembelajaran menginginkan hasil maksimal yang akan dicapai di diri peserta didik, yaitu mengingat tema pembelajaran, mengerti tema pembelajaran, menerapkan partisipasi ilmu bersama peserta didik yang lain kemudian peserta didik menganalisa jawaban-jawaban dari peserta didik yang lain serta mengevaluasi hasil belajar dengan bimbingan guru yang membuka kelas dengan pedoman memberikan ilmu dan menjadikan peserta didik sebagai subjek utama dalam pembelajaran dalam komunikasi dua arah. Hasil akhir dari pembelajaran itu adalah peserta didik mampu menciptakan pembaharuan ilmu mereka kedalam pembelajaran yang lebih bermakna terpatri di jiwa dan akal mereka.

Teori Konstruktivisme dalam Strategi Pembelajaran Berbasis Student Centered menempa peserta didik menjadi Learning To Do, Learning To Be, Learning To Live Together, meaning full dan Deep Learning dalam makna yang sebenarnya di dalam kelas.

Penerapan Student Centered Learning

              Dalam kegiatan belajar mengajar menggabungkan ketrampilan dasar mengajar guru dengan isi pokok pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan bingkai Bloom’s Taxonomy dan teori konstruktivisme pada peserta didik menjadi bagian terpenting dalam pembahasan uraian ini.

              Ketrampilan Dasar Mengajar, Uraian pelaksanaan kelas berurutan dalam jenjang ketrampilan dasar mengajar, penjelasan Bloom’s Taxonomy, intisari strategi pembelajaran student centered dan faktor-faktor yang dimiliki oleh teori konstruktivisme dalam memberi panduan pada peserta didik ketika menjadi subjek pembelajaran di kelas.

              Guru tetap memandu pembelajaran dengan rancangan pelaksanaan pembelajaran yang sudah disiapkan beserta tema pembelajaran dan pendalaman materi yang diikuti oleh peserta didik sebagai subjek dan objek pembelajaran sehingga proses belajar mengajar menjadi komunkatif serta suasana kelas menyenangkan bagi guru dan peserta didik. Hasil pembelajaran menyeluruh akan terlaksana sempurna.

Tabel Penerapan Student Centered

No

Ketrampilan Dasar Mengajar

Uraian

Bloom’s Taxonomy

Student Centerd

Uraian

Teori KONSTRUKTIVISME

1

Membuka Pelajaran

*Mengenalkan dan menginformasikan Tema Pelajaran

*Ice breaking (yang terkait dengan tema pelajaran)

 

LOTS (Lower Order Thinking Skill)

Remember

Perencanaan

Peserta Didik menerima perencanaan awal tema pelajaran

-

2

Bertanya

Guru mengucapkan beberapa kalimat pertanyaan untuk mendapatkan respon aktif dari peserta didik tentang tema pelajaran

Understand

Pembelajaran

Peserta Didik mulai memasuki tahan awal pembelajaran dari menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru

Learning To Do

3

Penguatan

Guru mengulangi kembali jawaban yang benar dari peserta didik dengan memberi pujian dan meminta peserta didik lain mengulangi jawaban yang benar tersebut. Lakukan berulang

Apply

Interaksi antara guru & Peserta Didik

Suasana kelas pembelajaran menjadi aktif di posisi guru dan peserta didik. Interaksi terjalin hangat dan menyenangkan

 

Learning To Be

4

Variasi

Guru memberikan model media belajar yang lain untuk memberikan pemahaman tema dalam rangka berlatih menganalisa dari tema yang sedang dijalani gurudan peserta didik

HOTS (Higher order Thinking Skill)

Analyze

Penelitian

Peserta didik dilatih untuk lebih meneliti pertanyan dan jawaban dari guru dengan tema pelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari

 

Learning To Live Together

5

Menjelaskan

Guru melanjutkan pembelajaran dengan memberikan jeda waktu bagi peserta didik dalam memfokuskan fungsi kognitifnya (konsentrasi) mendengarkan penjelasan guru yang lebih mendalam

Evaluate

Evaluasi

Peserta didik menyimak dengan seksama dalam keingintahuan pembelaran karena sudah diawali dengan partisipasi aktif peserta didik yang dilibatkan dari awal pembukaan kelas oleh guru

Meaningful

6

Mengelola Kelas

Setelah guru menjelaskan dalam waktu yang efektif dan efisien, guru membagi kelompok untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dalam pengelolaan kelas bertumpu tema pembelajaran hari ini

Create

 

Peserta didik setelah mendapatkan pembagian kelompok mulai berdiskusi untuk menciptakan pendapat dan karya yang terkait dengan tema pembelajaran dalam format yang lebih dalam untuk meghasilkan makna pembelajaran

 

Deep Learning

7

Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Guru memberikan waktu bagi perwakilan kelompok untuk membacakan hasil diskusi mereka dan memberikan penilaian lisan atas hasi diskusi tersebut

 

 

Peserta didik lebih aktif dalam rangsangan logika nalar berfikir ketika berinteraksi dengan diskusi sesama peserta didik

 

 

8

Mengajar Kelompok Kecil  & Perorangan

Setelah medengar secara keseluruhan hasi diskusi kelompok, guru melanjutkan intisari  mengajar dengan tema yang dibahas pada pertemuan ini

 

 

Peserta didik mendapatkan hasil intisari pembelajaran dan kemampuan partisipasi aktif sebagai pusat pembelajaran

 

 

9

Menutup Pelajaran

Guru meresume secara singkat pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai penutup tema pembelajaran hari ini di kelas yang penuh antusias keaktifan peserta didik dan memberikan dukungan positif bagi mereka

 

 

Peserta didik menyimak kesimpulan akhir dari tema hari ini dengan energi motorik halus dan motorik kasar karena berpartisipasi aktif sebagai pusat belajar yang bekerja sama dengan guru

menciptakan pembaharuan ilmu mereka kedalam pembelajaran yang lebih bermakna terpatri di jiwa dan akal mereka.

 

              Pembelajaran di sekolah adalah mata rantai keberhasilan pendidikan yang wadahi oleh sekolah sebagai perwakilan lembaga pendidikan. Guru berkuasa penuh pada penguasaan materi dan menguatkan karakter ilmiah peserta didik dan peserta didik berkuasa penuh atas dirinya sendiri dalam mengambil dan memahami pengetahuan  yang berjenjang guna kemandirian berfikir dan berwawasan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. (2003). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Febriyana, M., Muhammadiyah, U., & Utara, S. (2021). EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT CENTERED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAHASISWA. 7(2), 231–235.

Hairunisa, N. (2023). PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT-CENTERED LEARNING PADA MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VIII MADRASAH TSANAWIYAH DARUL FALAH SUMBER AGUNG KECAMATAN BENGKUNAT KABUPATEN PESISIR BARAT. 02(07).

Halik, O. (2022). Kurikulum Dan Pembelajaran. Bumi Aksara.

Rohman, F. (2019). Strategi Pembelajaran PAi (Darnoto (ed.); Cetakan Ke-2. Penerbit Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara.

Trinova, Z. (2013). Pembelajaran Berbasis Student-Centered Learning Pada Materi Pendidikan Agama Islam. Al-Ta Lim Journal, 20(1)(https://doi.org/10.15548/jt.v20i1.28), 324–335.

Wibowo. (2013). Manajemen Kerja. Raja Grafindo Persada.


Whatsapp